Pernah merasa mengerjakan sesuatu tapi tidak tuntas-tuntas?
Pernah merasa
mengerjakan sesuatu tetapi seakan-akan waktu tidak cukup, padahal sudah
berusaha mengatur waktu?
Pernah
mengerjakan sesuatu tetapi merasa sulit sekali menyelesaikannya?
Saudaraku,
perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Semangatlah membacanya, karena di antara wasiat
sebagian ulama yang merasakan sendiri keajaiban Al-Qur’an, beliau bersaksi
bahwa membaca Al-Qur’an akan membuat waktu menjadi berkah dan urusan menjadi
mudah.
Adh-Dhiya’
Al-Maqdisi menceritakan wasiat gurunya;
Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi:
ذيل طبقات الحنابلة
(3/ 205)
قَالَ: وأوصاني وقت
سفري، فَقَالَ: أَكْثَر من قراءة الْقُرْآن، ولا تتركه فَإِنَّهُ يتيسر لَك الَّذِي
تطلبه عَلَى قدر مَا تقرأ، قَالَ: فرأيت ذَلِكَ وجربته كثيرا، فكنت إِذَا قرأت كثيرا
تيسر لي من سماع الْحَدِيث وكتابته الكثير، وإذا لَمْ أقرأ لَمْ يتيسر لي.
Artinya:
“..Beliau
berwasiat kepadaku saat aku hendak safar (mencari ilmu), katanya:
‘Perbanyaklah
membaca Al-Qur’an, jangan meninggalkannya. Karena, apa yang kau kejar menjadi
mudah sesuai dengan kadar Al-Qur’an yang engkau baca”
Ternyata saya
benar membuktikannya. Dan saya telah banyak mencobanya.
Saya ini, jika
banyak membaca Al-Qur’an maka mudah bagiku memperoleh hadis dan banyak
menuliskannya. Jika aku tidak membaca, maka tidak jadi mudah bagiku.” (Dzail
Thobaqot Al-Hanabilah juz 3 hlm 205)
↪ Mencoba Belajar Dari Pengalaman Orang
atau Lembaga Lain.
90 Tahun Gontor:
Beberapa Hal yang Perlu Dipahami dan Ditiru dari Pondok Modern Gontor📌
Mungkin belum
banyak orang yang tahu tentang pondok ini. Letaknya yang jauh dari keramaian
kota dan asing dari publikasi menambah kekosongan orang-orang dalam mengenal
pondok pesantren yang telah berdiri sejak 90 tahun silam.
Namun, Bagi para
pendidik, kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Hal itu tidak lepas dari nilai
dan sistemnya yang tergambar dalam 9 hal berikut:
1. Wakaf
Potensial
Pendirinya
mewakafkan seluruh harta warisan orang tua untuk pondok. Dengan itu, bukannya
pondok kian surut dan pendiri menjadi melarat.
Pondok justru
kian berkembang pesat, meluas, serta mandiri dalam segala hal.
Sementara itu, para
Kyai pendiri, meskipun tidak digaji oleh pondok, dapat hidup dan menghidupi
keluarganya dengan cara hidup sederhana.
Para ilmuwan
yang pernah meneliti wakaf PM Darussalam Gontor mengatakan bahwa Gontor
memiliki sistem pengembangan wakaf produktif, yang dengan sistem tersebut wakaf
berkembang, bukan malah berkurang;
2. Visioner
Pendiri
mencanangkan Panca Jangka (Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi,
Khizanatullah, Pergedungan, dan Kesejahteraan Keluarga) sebagai pedoman yang
mempermudah Kyai atau Pimpinan Pondok dan generasi penerus mengemban amanah,
mengendalikan haluan.
Siapapun yang
akan memimpin harus berpedoman pada Panca Jangka tersebut;
3. Orientasi
Pendidikan
Secara
konsisten, pondok mengadakan Pekan Perkenalan "Khutbatu-l-‘Arsy"
setiap awal tahun pelajaran.
Ketika itu,
Kyainya mengajarkan dan berbicara dengan lantang, konsekuen, dan konsisten
tentang jiwa-jiwa pesantren (Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwwah Islamiyah,
kemandirian, dan Kebebasan) sebagai filsafat hidup, pandangan hidup, dan jalan
hidup kepada para santrinya.
Bukan hanya itu.
Beliau juga siap menjadi contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru oleh para
santrinya.
Sangat disadari
oleh Pimpinan pondok bahwa pesantren dalam pandangan Gontor adalah lembaga
pendidikan yang meletakkan Kyai sebagai figur sentral dan masjid sebagai titik
pusat yang menjiwai. Pekan Perkenalan ditujukan untuk “tajdidu an-niyat”;
4. Mandiri
Pondok tidak
memasang advertensi atau iklan dalam penerimaan siswa baru, tetapi yang
mendaftar tetap banyak. Umumnya sekolah, untuk menjaring siswa baru, akan
memasang iklan dengan informasi tentang sekolah sebegitu rupa agar calon siswa
mau mendaftar;
5. Tegas
Berdisiplin
Pondok
menerapkan disiplin ketat, tanpa mengkaitkan dengan atau mempertimbangkan
ketidakkerasanan (ketidakbetahan) santri. Artinya, dengan disiplin ketat,
pondok atau Kyai tidak khawatir santrinya akan berkurang, kabur, atau tidak
kerasan karena takut disiplin.
Logikanya, jika
santri berkurang, pemasukan pondok juga akan berkurang, dst. Bagi Gontor,
disiplin adalah mutlak.
Dengan disiplin,
pembentukan atau pendidikan karakter akan berjalan dengan baik. Dengan tegas
pula, Gontor justru mengatakan, “Kalau siap menerima disiplin, ya, silakan
masuk Gontor, kalau tidak siap, silakan pulang saja!”.
Tidak akan ada
kemajuan tanpa kedisplinan dan tidak ada kedisipilinan tanpa keteladanan. (K.H
Hasan A. Sahal);
6. Kemapanan
Sistem
Tetap konsisten
dengan sistem Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) 6 tahun, bukan dengan
sistem SMP-SMA atau Tsanawiyah-Aliyah.
Dengan sistem
tersebut, penilaian atau evaluasi terhadap siswa dapat dilakukan secara mandiri
oleh pondok, bebas intervensi pemerintah atau lembaga lain.
Ditambah dengan
sistem asrama penuh, penanaman jiwa pondok dan pendidikan karakter benar-benar
lekat dan dapat menjadi pegangan hidup, sistem pendidikan di kelas dan di luar
kelas (asrama) berlangsung integral; guru di kelas adalah juga guru pembimbing
di asrama;
7. Berdikari
Ajaran jiwa
kemandiriannya membuat Gontor membalikkan (baca: meluruskan) paradigma, bahwa
sebuah lembaga itu “disumbang karena maju, bukan maju karena disumbang”.
Kemandiriannya
dalam hal pendanaan dan sistem pendidikan membuat Gontor bebas dan konsisten
tidak tergantung kepada lembaga manapun;
8. Anomali Ujian
Paradigma lain
yang dipegang oleh Gontor hingga saat ini adalah “Ujian untuk belajar, bukan
belajar untuk ujian.” Juga, “Ilmu itu akan didapat sebelum ujian, ketika ujian,
dan setelah ujian.” Sehingga “tidak naik kelas” adalah hal biasa, namun tetap
menjadi hal yang tidak diharapkan.
Yang terpenting
di Gontor bukanlah naik kelas, tetapi seberapa banyak ilmu yang sudah
didapat/dimiliki siswa. Tidak naik bukan masalah, yang penting ilmunya
bertambah. Itu yang harus disyukuri. Pada beberapa siswa, untuk naik kelas,
memang dibutuhkan perjuangan ekstra;
9. Penerapan
Nilai
Gontor tidak
menggaji guru-gurunya tetapi memberikan kesejahteraan, dengan standar sekadar
untuk bekal beribadah atau bekal mengabdi di pondok. Pesannya, “Asalkan mau
hidup sederhana, insya Allah tidak akan kelaparan.”
Alhamdulillah,
kenyataannya, guru-guru Gontor tidak ada yang melarat.
Kesejahteraan
guru itu tidak diambilkan dari SPP, melainkan dari hasil usaha pondok. Hal ini
membuat guru bisa tampil berwibawa di depan para siswanya di depan kelas;
mengajar dengan tidak membedakan siapa yang sudah membayar SPP dan siapa yang
belum atau malah tidak membayar SPP sama sekali.
Siswa juga tidak
bisa mengatakan, “Kamu sdh digaji".
Demikianlah.
Semoga
bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar