Selasa, 09 Maret 2021

BAGAIMANA AGAR WAKTU JADI BERKAH, URUSAN JADI MUDAH?

 Pernah merasa mengerjakan sesuatu tapi tidak tuntas-tuntas?

Pernah merasa mengerjakan sesuatu tetapi seakan-akan waktu tidak cukup, padahal sudah berusaha mengatur waktu?

Pernah mengerjakan sesuatu tetapi merasa sulit sekali menyelesaikannya?

 

 

Saudaraku, perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Semangatlah membacanya, karena di antara wasiat sebagian ulama yang merasakan sendiri keajaiban Al-Qur’an, beliau bersaksi bahwa membaca Al-Qur’an akan membuat waktu menjadi berkah dan urusan menjadi mudah.

 

 

Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi  menceritakan wasiat gurunya; Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi:

 

 

ذيل طبقات الحنابلة (3/ 205)

قَالَ: وأوصاني وقت سفري، فَقَالَ: أَكْثَر من قراءة الْقُرْآن، ولا تتركه فَإِنَّهُ يتيسر لَك الَّذِي تطلبه عَلَى قدر مَا تقرأ، قَالَ: فرأيت ذَلِكَ وجربته كثيرا، فكنت إِذَا قرأت كثيرا تيسر لي من سماع الْحَدِيث وكتابته الكثير، وإذا لَمْ أقرأ لَمْ يتيسر لي.

 

Artinya:

“..Beliau berwasiat kepadaku saat aku hendak safar (mencari ilmu), katanya:

‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, jangan meninggalkannya. Karena, apa yang kau kejar menjadi mudah sesuai dengan kadar Al-Qur’an yang engkau baca”

Ternyata saya benar membuktikannya. Dan saya telah banyak mencobanya.

Saya ini, jika banyak membaca Al-Qur’an maka mudah bagiku memperoleh hadis dan banyak menuliskannya. Jika aku tidak membaca, maka tidak jadi mudah bagiku.” (Dzail Thobaqot Al-Hanabilah  juz 3 hlm 205)

 

 

 

 

Mencoba Belajar Dari Pengalaman Orang atau Lembaga Lain.

90 Tahun Gontor: Beberapa Hal yang Perlu Dipahami dan Ditiru dari Pondok Modern Gontor📌

Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang pondok ini. Letaknya yang jauh dari keramaian kota dan asing dari publikasi menambah kekosongan orang-orang dalam mengenal pondok pesantren yang telah berdiri sejak 90 tahun silam.

Namun, Bagi para pendidik, kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Hal itu tidak lepas dari nilai dan sistemnya yang tergambar dalam 9 hal berikut:

1. Wakaf Potensial

Pendirinya mewakafkan seluruh harta warisan orang tua untuk pondok. Dengan itu, bukannya pondok kian surut dan pendiri menjadi melarat.

Pondok justru kian berkembang pesat, meluas, serta mandiri dalam segala hal.

Sementara itu, para Kyai pendiri, meskipun tidak digaji oleh pondok, dapat hidup dan menghidupi keluarganya dengan cara hidup sederhana.

Para ilmuwan yang pernah meneliti wakaf PM Darussalam Gontor mengatakan bahwa Gontor memiliki sistem pengembangan wakaf produktif, yang dengan sistem tersebut wakaf berkembang, bukan malah berkurang;

2. Visioner

Pendiri mencanangkan Panca Jangka (Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Khizanatullah, Pergedungan, dan Kesejahteraan Keluarga) sebagai pedoman yang mempermudah Kyai atau Pimpinan Pondok dan generasi penerus mengemban amanah, mengendalikan haluan.

Siapapun yang akan memimpin harus berpedoman pada Panca Jangka tersebut;

3. Orientasi Pendidikan

Secara konsisten, pondok mengadakan Pekan Perkenalan "Khutbatu-l-‘Arsy" setiap awal tahun pelajaran.

Ketika itu, Kyainya mengajarkan dan berbicara dengan lantang, konsekuen, dan konsisten tentang jiwa-jiwa pesantren (Keikhlasan, Kesederhanaan, Ukhuwwah Islamiyah, kemandirian, dan Kebebasan) sebagai filsafat hidup, pandangan hidup, dan jalan hidup kepada para santrinya.

Bukan hanya itu. Beliau juga siap menjadi contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru oleh para santrinya.

Sangat disadari oleh Pimpinan pondok bahwa pesantren dalam pandangan Gontor adalah lembaga pendidikan yang meletakkan Kyai sebagai figur sentral dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwai. Pekan Perkenalan ditujukan untuk “tajdidu an-niyat”;

4. Mandiri

Pondok tidak memasang advertensi atau iklan dalam penerimaan siswa baru, tetapi yang mendaftar tetap banyak. Umumnya sekolah, untuk menjaring siswa baru, akan memasang iklan dengan informasi tentang sekolah sebegitu rupa agar calon siswa mau mendaftar;

5. Tegas Berdisiplin

Pondok menerapkan disiplin ketat, tanpa mengkaitkan dengan atau mempertimbangkan ketidakkerasanan (ketidakbetahan) santri. Artinya, dengan disiplin ketat, pondok atau Kyai tidak khawatir santrinya akan berkurang, kabur, atau tidak kerasan karena takut disiplin.

Logikanya, jika santri berkurang, pemasukan pondok juga akan berkurang, dst. Bagi Gontor, disiplin adalah mutlak.

Dengan disiplin, pembentukan atau pendidikan karakter akan berjalan dengan baik. Dengan tegas pula, Gontor justru mengatakan, “Kalau siap menerima disiplin, ya, silakan masuk Gontor, kalau tidak siap, silakan pulang saja!”.

Tidak akan ada kemajuan tanpa kedisplinan dan tidak ada kedisipilinan tanpa keteladanan. (K.H Hasan A. Sahal);

6. Kemapanan Sistem

Tetap konsisten dengan sistem Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) 6 tahun, bukan dengan sistem SMP-SMA atau Tsanawiyah-Aliyah.

Dengan sistem tersebut, penilaian atau evaluasi terhadap siswa dapat dilakukan secara mandiri oleh pondok, bebas intervensi pemerintah atau lembaga lain.

Ditambah dengan sistem asrama penuh, penanaman jiwa pondok dan pendidikan karakter benar-benar lekat dan dapat menjadi pegangan hidup, sistem pendidikan di kelas dan di luar kelas (asrama) berlangsung integral; guru di kelas adalah juga guru pembimbing di asrama;

7. Berdikari

Ajaran jiwa kemandiriannya membuat Gontor membalikkan (baca: meluruskan) paradigma, bahwa sebuah lembaga itu “disumbang karena maju, bukan maju karena disumbang”.

Kemandiriannya dalam hal pendanaan dan sistem pendidikan membuat Gontor bebas dan konsisten tidak tergantung kepada lembaga manapun;

8. Anomali Ujian

Paradigma lain yang dipegang oleh Gontor hingga saat ini adalah “Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.” Juga, “Ilmu itu akan didapat sebelum ujian, ketika ujian, dan setelah ujian.” Sehingga “tidak naik kelas” adalah hal biasa, namun tetap menjadi hal yang tidak diharapkan.

Yang terpenting di Gontor bukanlah naik kelas, tetapi seberapa banyak ilmu yang sudah didapat/dimiliki siswa. Tidak naik bukan masalah, yang penting ilmunya bertambah. Itu yang harus disyukuri. Pada beberapa siswa, untuk naik kelas, memang dibutuhkan perjuangan ekstra;

9. Penerapan Nilai

Gontor tidak menggaji guru-gurunya tetapi memberikan kesejahteraan, dengan standar sekadar untuk bekal beribadah atau bekal mengabdi di pondok. Pesannya, “Asalkan mau hidup sederhana, insya Allah tidak akan kelaparan.”

Alhamdulillah, kenyataannya, guru-guru Gontor tidak ada yang melarat.

Kesejahteraan guru itu tidak diambilkan dari SPP, melainkan dari hasil usaha pondok. Hal ini membuat guru bisa tampil berwibawa di depan para siswanya di depan kelas; mengajar dengan tidak membedakan siapa yang sudah membayar SPP dan siapa yang belum atau malah tidak membayar SPP sama sekali.

Siswa juga tidak bisa mengatakan, “Kamu sdh digaji".

Demikianlah.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar